Sabtu, 12 November 2016

TAWASUL ITU 1000% BOLEH

NABI S.A.W TIDAK PERNAH MELARANG TAWASSUL Tawasul dengan Nabi SAW dan orang shaleh menurut para Imam dan ulama 📓 Imam Malik Qodhi Iyadh dalam kitab Asy Syifa dan ulama lainnya menukilkan kisah Imam Malik ra tentang tawasul. Ketika Khalifah al Manshur bertanya kepada Imam Malik ra saat menziarahi makam baginda Rasulullah SAW, “Wahai Aba Abdillah (nama kunyah Imam Malik). Apakah aku menghadap kiblat ketika berdoa atau menghadap makam Rasulullah SAW?” Imam Malik berkata, “Mengapa engkau palingkan wajahmu darinya (baginda Nabi SAW) sedangkan ia adalah wasilahmu dan wasilah ayahmu Adam as kepada Allah. Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat, niscaya Allah akan memberikan syafaat kepadamu. Allah telah berfirman : وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا [النساء: 64[ Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS An nisa: 64) 📓 Imam Syafii Imam Syafii sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Hajar al Haitsami dalam Shawaiq bertawasul dengan keluarga Nabi SAW. Beliau berkata : Keluarga nabi adalah wasilahku. Merekalah perantaraku kepada-Nya Aku berharap kelak buku amalanku diberikan dengan tangan kanan Dalam madzhab Syafii sendiri, bertawasul dengan para nabi dan orang sholeh adalah sesuatu yang dianjurkan. Imam al Qura Syamsudin Ibnu Jazri asy Syafii mengatakan dalam kitabnya Hishnul Hashin ketika berbicara tentang adab berdoa: “Hendaknya ia bertawasul kepada Allah dengan para nabi dan orang-orang sholeh daripada hamba Allah.” 📓Imam Ahmad Imam Ahmad sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab madzhab Hanbali dalam bab Istisqo (meminta hujan) seperti dalam kitab Inshof, mengatakan: “Disunahkan untuk bertawasul kepada Nabi SAW ketika terjadi kekeringan.” Dalam Madzhab Hanbali sendiri bertawasul dengan orang sholeh adalah boleh dan bahkan ada yang menyatakan sunah. Imam Ibnu Muflih al Hanbali dalam kitabnya al Mubdi fi Syarh Muqni mengatakan : Berkata Samiri dan penulis Talkhis, “Tidak mengapa bertawasul dalam shalat Istisqo dengan para guru dan ulama yang bertakwa. Dalam Madzhab (Hanbali) hukumnya boleh untuk meminta syafaat kepada Allah dengan lelaki yang sholeh bahkan ada yang mengatakan sunah. Imam Ahmad sendiri dalam Mansak yang ditulis oleh al Mirwazi menyebutkan bahwa ia bertawasul dengan Nabi SAW di dalam doanya.” 📓Ibnu Hajar al Atsqolani Dalam Diwannya, al Hafidz Ibnu Hajar banyak melakukan tawasul. Diantaranya adalah perkataan beliau : Di hadapan pintu kedermawananmu, hamba yang penuh dosa dan kesusahan berdiri. Wahai manusia terindah dengan wajah bercahaya Denganmu ia bertawasul, mengharap ampunan atas ketergelinciran Dengan bersimbah air mata karena rasa takutnya 📓Ibnu Taimiyah Ibnu Taimiyah juga memberikan contoh istighosah (salah satu bentuk tawasul) kepada Nabi SAW. Dalam kitabnya “Al Kalim Ath Thoyib (ucapan-ucapan yang baik)” beliau meriwayatkan : “Dari Haitsam bin Hanasy, berkata: “Dahulu, ketika kami duduk di -majelis- sahabat Abdullah bin Umar bin Khathab (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya), tiba-tiba kaki beliau kebas. Seseorang berkata kepadanya: “Sebutkanlah orang yang paling engkau cintai!” Maka sahabat Abdullah ibn Umar berkata: “Yaa Muhammad….” Saat itu pula beliau langsung sembuh dari sakitnya tersebut; seakan ia telah terlepas dari ikatan” (Al Kalim Ath Thoyib, hal 88) Atsar ini meskipun dhoif, namun Ibnu Taimiyah justru mendatangkannya dalam kitab keutamaan yang dikatakan sebagai Kalim Thoyib (perkataan yang baik). Artinya ia menganggapnya sebagai sesuatu yang baik. . Bahkan dalam fatwanya Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa tawasul dengan Nabi SAW adalah disyariatkan dalam berdoa. Beliau mengatakan : “Termasuk ke dalam hal yang disyariatkan adalah bertawasul dengannya (Nabi shalallahu `alaihi wa sallam) di dalam do`a sebagaimana terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan dishahihkan olehnya bahwa Nabi SAW mengajarkan seorang untuk berdoa, “Wahai Allah, sesungguhnya Aku bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul dengan perantaraanmu kepada Tuhanku agar DIA menunaikan hajatku itu. Wahai Allah, jadikan ia orang yang memberikan syafaat kepadaku.” Tawasul yang seperti ini adalah perbuatan baik. (Majmu Fatawa juz 3 halaman 276