Kamis, 17 November 2016

HUKUM DALAM ISLAM

"JAWABAN BAGI MEREKA PERTANYAAN SEPUTAR TAHLILAN & HUKUM-HUKUM NYA" Dalam keyakinan para ulama Aswaja, sumber hukum Islam itu ada 4: 1. Nash Alquran 2. Nash Hadits 3. Ijma' Ulama (khususnya para shahabat). 4. Qiyas. Jadi tidak semua amalan umat Islam, khususnya dalam bidang amalan Sunnah itu, harus ada dalil Qath'i dari Alquran atau Hadits (apalagi contoh langsung dari Nabi S.A.W). Karena Alquran dan Hadits juga sudah membuka lebar pintu Ijtihad bagi para ulama yg kompenten di bidangnya, hingga dapat dijadikan rujukan umat Islam. فاسألوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون Tanyalah kepada ahi ilmu (ulama) jika kalian tidak memahaminya. العلماء ورثة الانبياء Ulama itu adalah pewaris para nabi Masih banyak dalil tentang bolehnya umat Islam mengikuti ijtihad para ulama. Tahlilan dengan cara "MENGISLAMKAN ADAT" termasuk dari hasil ijtihad serta qiyas yg dilakukan oleh para ulama jaman dahulu kala (Salaf). Ini juga termasuk mencontoh Nabi Muhammad SAW saat 'MENGISLAMKAN ADAT YAHUDI' yang selalu berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), namun dg dirobah menjadi puasa sunnah setiap tgl 9-10 atau 10-11 Muharram, lantas diqiyaskan dengan pelaksanaan Tahlilan. Bahkan Nabi S.A.W bersabda: اقرؤوا يس على موتاكم Bacakan surat Yasin untuk mayit kalian. Berikut cacatan tentang bolehnya berijtihad dengan syarat-syarat tertentu sesuai yang ditulis oleh KH. Luthfi Bashori sebagai berikut: BOLEH BERIJTIHAD ASALKAN... ! Luthfi Bashori Sy. Muadz bin Jabal RA mengisahkan, ketika Rasulullah SAW mengutusnya ke Yaman beiau SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan jika dihadapkan kepadamu suatu masalah?” Sy. Muadz bin Jabal RA menjawab, “Aku pututskan dengan hukum yang ada di Al-Quran.” “Jika tidak ada hukumnya di dalam Al-Qur’an?” tanya Nabi SAW. Sy. Muadz katakan, “Aku putuskan berdasrkan Sunnah Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW bertanya kembali, “Jika tidak hukum-Nya dalam As-sunnah?” “Aku akan berijtihad dengan pendapatku,” tegas Sy. Muadz bin Jabal Ra. Nabi Muhammad SAW menepuk dadanya. “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasul-Nya, demi keridhaan Allah dan Rasulu-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi) Menurut para ulama, tidak semua orang dibenarkan melakukan ijtihad. Seseorang yang melakukan ijtihad haruslah memiliki banyak persyaratan pokok, antara lain: 1. Memahami dengan sungguh-sungguh tafsir ayat-ayat Al-Quran dengan asbabun nuzulnya (yakni sebab-sebab turunnya Al-Quran), ayat-ayat nasikh dan mansukh (yang menghapuskan dan yang dihapus), dan gharaibul Quran. 2. Memahami hadits dan asbabul wurudnya (sebab-sebab munculnya hadits). Nasikh mansukhnya, serta delik ilmu musthalah haditsnya. 3. Menguasai bahasa Arab, baik grametikal maupun conversationnya dan seluruh cabang nahwu maupun dialegnya. 4. Mengetahui tempat-tempat hasil ijma’ para shahabat serta para ulama salaf ahli ijtihad sebelumnya. 5. Memahami ushul fiqih secara detil. 6. Memahami maksud-maksud syariat (maqashidus syariah) 7. Memahami masyarakat dan adat-istiadatnya sebagai obyek ijtihadnya. 8. Secara pribadi mempunyai sifat adil dan taqwa, menurut setandar para ulama. 9. Mengusai ilmu ushuluddin/ tauhid/ aqidah (salah satu cabang dari ilmu-ilmu keislaman yang membahas pokok-pokok keyakinan dalam Islam. 10. Memahami ilmu mantik (logika) yang rasional. 11. Meguasai cabang-cabang ilmu fiqih. 12. Dan sebagainya. Jika persyaratan di atas ini belum terpenuhi, maka haram bagi seseorang untuk berijtihad dalam urusan bersyariat, namun kewajibannya adalah bertaqlid mengikuti hasil ijtihad para ulama terdahulu, yang mana mereka telah menyusun kitab-kitab fiqh untuk memudahkan umat Islam yang belum mampu berijtihad dalam melaksakan kewajiban bersyariat. Adapun dewasa ini, hasil ijtihad para ulama Salaf yang diakui keabsahannya dan kevalidannya oleh dunia Islam itu ada pada empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Maka jika ada madzhab lain yang dimunculkan selain dari empat madzhab ini, maka dihukumi sebagai madzhab yang syadz atau menyimpang. Sedangkan para ulama yang hidup di jaman sekarang dan memenuhi syarat ijtidah, sekalipun belum sampai pada standar keilmuan para mujtahid mutlaq (setara Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bin Hanbal) jika mereka berijtihad terhadap suatu permasalahan keumatan yang sedang berkembang, maka dapat dibenarkan selagi tidak keluar dari koridor aturan dari salah satu empat madzhab di atas, maka hasil ijtihadnya itu dapat dicetuskan dalam bentuk fatwa. SEMOGA BERMANFAAT